ngsung ke:
navigasi,
cari
Koordinat:
0.95455°LS 100.36942°BT
Masjid Raya Ganting sebelum memiliki dua
menara sekitar tahun
1900-
1923
Masjid Raya Ganting adalah salah satu
masjid tertua di
Indonesia yang terletak di Jalan Ganting No. 3,
kelurahan Ganting,
kecamatan Padang Timur,
Kota Padang,
Sumatera Barat.
[1] Masjid ini didirikan pada tahun
1805 dan selesai pada tahun
1810, sehingga menjadi masjid tertua di kota Padang. Masjid Raya Ganting termasuk bangunan yang selamat dari hantaman gelombang
tsunami akibat
gempa bumi Sumatera pada tahun
1833.
Sejak
abad ke-19,
Masjid Raya Ganting mulai banyak dikunjungi beberapa pejabat tinggi
negara, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tercatat dari
beberapa pejabat negara yang pernah berkunjung sekaligus melaksanakan
salat di Masjid Raya Ganting antara lain
Soekarno,
Mohammad Hatta,
Hamengkubuwana IX, Achmad Syaichu,
Abdul Haris Nasution, dan beberapa tokoh lainnya. Pada tahun
1942, Soekarno pernah menginap di salah satu rumah yang ada di belakang masjid, bahkan memberikan
pidato di masjid ini.
Saat ini, selain digunakan sebagai aktifitas ibadah umat
Islam, masjid satu lantai ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan
agama dan pesantren kilat bagi pelajar. Bahkan telah menjadi salah satu
daya tarik wisata yang terkenal di kota Padang. Di halaman masjid ini sebelumnya juga terdapat
lembaga pendidikan Thawalib yang didirikan oleh
Abdul Karim Amrullah pada tahun
1921.
Pembangunan
Sebelumnya pada tahun
1790, letak masjid ini adalah di tepi
Batang Arau, tepatnya di kaki Gunung Padang. Masjid dengan bentuk bangunan yang sangat sederhana ini dibuat dari bahan
kayu dan
atap yang dibuat dari
rumbia. Masjid ini kemudian dihancurkan oleh pemerintah
Hindia-Belanda akibat dari kebijakan pembuatan jalan ke
pelabuhan Teluk Bayur.
Tidak lama setelah itu, masjid ini kembali dibangun di lokasi yang
sekarang yang berjarak sekitar 4 kilometer dari lokasi sebelumnya.
[2] Pembangunan kembali tersebut diprakasai oleh tokoh masyarakat setempat, dimana pada tahun
1805 telah disepakati untuk mulai membangun masjid di tanah wakaf 7
suku yang diserahkan melalui Gubernur Jenderal Ragen Bakh,
penguasa Hindia-Belanda di Sumatera Barat pada waktu itu. Dengan dukungan banyak pihak dan bantuan dari para
saudagar dan
ulama Minangkabau baik yang ada di
Sumatera Barat maupun diluar Sumatera Barat, pada tahun
1810 pembangunan kembali Masjid Raya Ganting dapat diselesaikan.
Keberadaan masjid yang saat itu masih terlihat sederhana ini mendapat dukungan penuh dari salah seorang anggota
Corps Genie Belanda berpangkat kapten yang menjabat sebagai Komandan Genie wilayah
Gouvernement Sumatra's Westkust (wilayah yang meliputi Sumatera Barat dan
Tapanuli sekarang). Sehingga dilakukanlah pembuatan bagian depan (
fasad) masjid yang mirip dengan
benteng Spanyol. Selain itu, lantai masjid yang terbuat dari batu kali bersusun diplester
tanah liat juga diganti dengan
semen yang didatangkan dari
Jerman. Kemudian pada tahun
1900, dimulailah pemasangan tegel dari
Belanda
yang dipesan melalui N.V. Jacobson van Berg. Pemasangan tegel tersebut
ditangani oleh tukang yang ditunjuk langsung oleh pabrik dan selesai
pada tahun
1910. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembuatan
menara pada bagian kiri dan kanan masjid yang selesai pada tahun
1967. Sebelum kedua menara itu selesai, pada tahun
1960 juga telah dilakukan pemasangan
keramik pada 25 tiang ruang utama yang aslinya terbuat dari
batu bata. Dinding di ruang utama juga dipasangi keramik, namun pada tahun
1995.
Sejarah
Dalam perjalanan
sejarah Kota Padang, masjid ini turut memberikan andil. Selain lokasi pengembangan
agama Islam di
pulau Sumatera, juga pernah dijadikan lokasi Jambore
Hizbul Wathan se-Indonesia pada tahun
1932. Kemudian menjadi tempat embarkasi
haji pertama di
Sumatera Tengah melalui pelabuhan Emmahaven (sekarang
Teluk Bayur).
[3]
Pada tahun
1918 seluruh
ulama
di Minangkabau mengadakan pertemuan di Masjid Raya Ganting untuk
membahas langkah-langkah yang akan ditempuh dalam melaksanakan pemurnian
ajaran
agama Islam dari pemahaman mistik dan khufarat. Selanjutnya pada tahun
1921,
Abdul Karim Amrullah mendirikan sekolah Thawalib di dalam pekarangan masjid sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat
kota Padang saat itu, dimana alumninya kemudian mendirikan
Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang merupakan cikal bakal
Partai Masyumi.
Pada tahun
1942,
Jepang mulai menduduki
Indonesia, saat itu
Soekarno yang ditahan
Belanda di
Bengkulu diungsikan ke
Kutacane. Namun sesampainya di
Painan, tentara Jepang sudah lebih dahulu menduduki
Bukittinggi, sehingga Belanda merubah rencana semula dengan mengungsi ke
Barus dan meninggalkan Sukarno di Painan. Selanjutnya oleh
Hizbul Wathan yang saat itu bermarkas di Masjid Raya Ganting, menjemput Sukarno untuk dibawa ke
Padang dengan menggunakan kendaraan
pedati. Beberapa hari kemudian Sukarno dibawa ke Padang dan menginap di salah satu rumah pengurus Masjid Raya Ganting.
Selama
pendudukan tentara Jepang di
Sumatera Tengah, masjid ini menjadi tempat pembinaan prajurit Gyugun dan Hei Ho yang merupakan kesatuan tentara pribumi yang dibentuk oleh
Jepang.
Arsitektur
Arsitektur Masjid Raya Ganting merupakan perpaduan dari berbagai corak arsitektur sebab pengerjaannya melibatkan beragam etnik seperti
Persia,
Timur Tengah,
Cina, dan
Minangkabau.
Masjid Raya Ganting berdiri di atas lahan seluas 102 x 95,6 meter
persegi. Masjid ini memiliki halaman yang cukup luas untuk menampung
banyaknya jamaah yang melaksanakan
Salat Ied di Hari Raya
Idul Fitri dan
Idul Adha. Di sebelah
selatan dan belakang masjid terdapat beberapa
makam, salah satu makam yang ada di selatan masjid adalah makam
Angku Syekh Haji Uma, salah satu pemrakasa pembangunan kembali Masjid Raya Ganting.
Bangunan masjid ini berbentuk persegi panjang yang simetris berukuran
42 x 39 meter. Bangunan terbagi atas serambi muka, serambi kanan,
serambi kiri, dan ruang utama.
Soko guru atau tiang utama masjid berjumlah 25 buah yang berbentuk
segi enam dengan
diameter 40 sampai 50 cm dan tinggi mencapai 4,2 meter. Tiang-tiang yang terbuat dari
beton ini sama sekali tidak menggunakan tulang besi, sehinga banyak yang mulai retak akibat
gempa.
[4]
Tatanan
atap
masjid berupa atap susun berundak-undak sebanyak 5 tingkat. Ada celah
di tiap bagian atap untuk pencahayaan. Tingkat pertama berbentuk segi
empat. Sedangkan tingkat dua sampai empat berbentuk segi delapan.
Tukang-tukang Cina sempat dikerahkan untuk mengerjakan atap kubah yang
mirip bangunan atap Vihara Cina ini.
Referensi