Senin, 12 November 2012

Buah dan Sayur yang BAIK untuk Darah Tinggi

Di masyarakat umum beredar pengertian yg salah/rancu antara
tekanan darah tinggi dengan kadar darah (Hb) tinggi.
Sehingga ada makanan2 tertentu yg penting untuk tekanan darah tinggi,
tapi justru dihindari karena dianggap bisa meningkatkan tekanan darah,
padahal makanan2 tsb memang bisa menaikkan kadar darah (Hb),
tapi tidak menaikkan tekanan darah


Quote:Quote:Ini ada beberapa contoh makanan
yg sangat baik dikonsumsi oleh penderita darah tinggi yg disarikan dari berbagai sumber


Quote:Buah dan Sayur yang BAIK untuk Darah Tinggi:

1. Buah dan sayur tinggi kalium
Contoh: bayam, jamur, blewah, jeruk, anggur, pisang, air kelapa, alpukat, tomat, nangka dan kentang


Spoilerfor Mengandung Kalium:


2. Lycopene yg ada pada buah berwarna merah
Contoh: tomat dan apel, cranberry, bit, ceri, jeruk merah dan raspberry
Spoilerfor Mengandung Lycopene:


3. Sayur yang kaya magnesium
Contoh: bayam, brokoli dan sawi hijau.
Spoilerfor Mengandung Magnesium:



Quote:Quote:K A L I U M

Di dalam tubuh, kalium berfungsi untuk menjaga keseimbangan garam (Natrium) dan cairan, serta membantu untuk mengontrol tekanan darah normal.
Disini kalium berfungsi sebagai diuretik (peningkat jumlah buang air kecil) sehingga pengeluaran natrium cairan meningkat,
hal tersebut dapat membantu menurunkan tensi darah.
Hal yang perlu diperhatikan adalah kalium mudah hilang saat proses pengolahan.
Bahan makanan yang dipotong kecil-kecil ditambah dengan pencucian pada air mengalir dapat meningkatkan kehilangan kalium dalam bahan tersebut.
Demikian juga pada perebusan bahan makanan, air rebusan yang mengandung kalium tersebut sebaiknya tidak dibuang.


Quote:L Y C O P E N E

Lycopene adalah pigmentasi warna merah pada berbagai jenis buah, yang berfungsi:
  • Melindungi kulit dari sinar UV
  • Menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah (LDL) >>> kadar kolesterol turun, tekanan darah relatif turun juga
  • Antioksidan kuat untuk mengurangi kerusakan DNA dan protein tubuh
  • Melindungi dari kanker kulit, kanker testis, kanker adrenal, dan kanker prostat
.


Quote:M A G N E S I U M

Dalam sebuah studi meta analisis terhadap 23 studi yang melibatkan 1.173 pasien tentang manfaat magnesium,
diketahui mereka yang mengonsumsi suplemen magnesium mengalami penurunan tekanan sistolik sekitar 3-4 mmHg dan diastolik 2-3 mmHg.

Jika kadar magnesium dalam sel darah rendah, kadar kalium pun rendah
Kalo kadar kalium rendah, kadar natrium naik sehingga tekanan darah meningkat

Minggu, 28 Oktober 2012

RANGKAIAN ELEKTRONIC

Big Amplifier

Big Amplifier

Digital Swicth






Audio Switch

Digital Dice

Digital Volume


Headset Amplifier




Voltage to Frequency

Key Pad


Switch

Inverter

Analog To Digital





Ampli Jadul

Kamis, 13 September 2012

Sisa Material Galodo

METROPOLIS
Sisa Material Galodo Mengancam
Sekber PA: Illegal Logging Telah Berlangsung Lama
Padang Ekspres • Selasa, 11/09/2012 11:43 WIB • • 360 klik
Tumpukan bekas potongan kayu masih tersisa di sepanjang Batang Kuranji.
Batubusuk, Padek—Banjir bandang atau galodo pada 24 Juli lalu, menyisakan ancaman bencana ekologi yang nyata. Material galodo tak hanyut hingga ke muara, justru me­numpuk di beberapa titik sep­anjang aliran Sungai Padang­janiah, salah satu sumber Batang Kuranji.

Demikian temuan hasil ekspedisi yang dilakukan Se­kretaris Bersama (Sekber) Pecinta Alam Sumatera Barat (Sumbar) di sepanjang aliran Sungai Padangjaniah, bebera­pa hari yang lalu. Tim ekspe­disi yang dikoordinatori Rico Rahmad, beranggotakan  Ha­na­vi, Wilbran, Nof dan Yose.

Tim ekspedisi menemukan banyak titik longsoran di pung­gung-punggung bukit yang berjejer  dari Patamuan hingga perbatasan Kabupaten Solok. Dampak galodo juga me­nye­babkan pelebaran sungai de­ngan skala kecil hingga dua kali lapangan sepakbola.  Ge­londongan kayu bekas dite­bang secara ilegal maupun yang tercerabut dari akarnya karena derasnya arus air me­numpuk di badan sungai yang berjumlah puluhan titik.  Diki­tari bebatuan berdiameter kecil hingga besar sangat po­tensial terbentuknya embung-em­bung, atau titik tumpukan air.

“Galodo juga mengikis ping­­giran sungai sepanjang 8 kilometer ke hulu tersebut. Tak hanya menyebabkan pohon bertumbangan, galodo juga menimbulkan erosi di sejum­lah titik di pinggir sungai.

Di sela-sela punggungan bukit juga bermunculan anak sungai baru yang diduga berasal dari mata air di perbukitan,” jelas Rico Rachmad dalam konfe­rensi pers di Sekratariat Bivac, Ulakkarang, kemarin.

Ekspedisi empat hari ini (31/8 sampai 3-9)  juga me­nemukan kayu dalam proses penebangan, kayu olahan ber­je­nis 6x10 dan 6x12 sekitar 15 kubik kayu.

Berdasarkan observasi, penebangan kayu dilakukan dengan sistem tebang pilih. Meski demikian, pada keting­gian di atas 300 Mdpl, kondisi hutan masih rapat. “Di ke­tinggian 400 Mdpl, tim juga mencium aroma belerang. Se­makin ke atas, aroma tersebut semakin menyengat. Diduga aroma belerang berasal dari arah timur atau dekat perb­a­tasan dengan Kabupaten So­lok. Tim juga menemukan serpihan jenis bebatuan gu­nung api (pembekuan larva) pada ketinggian 600 Mdpl hingga 1.000 Mdpl dan jejak harimau dan rusa pada keting­gian 400 Mdpl hingga 800 Mdpl,” jelasnya.

Menurut analisa tim Sek­ber, galodo disebabkan oleh kon­­disi curah hujan yang sa­ngat besar yang disertai angin ken­­cang yang mengakibatkan run­tuhnya tebing perbukitan dengan ke­miringan 80-90 derajat.

Potensi Bencana

Melihat banyaknya kayu-kayu yang melintang pada aliran sungai dan banyaknya tumpukan kayu-kayu besar, mencapai diameter 4 meter, disertai dengan bebatuan be­sar dan material batu yang menumpuk di sepanjang ali­ran Sungai Padangjaniah, ber­potensi besar terjadi em­bung (titik kumpul air) yang sewak­tu-waktu bisa memicu galodo lebih besar dengan membawa material kayu dan batu.

Di samping itu, beber Rico, masih banyaknya retakan-retakan yang menganga di 7 titik bukit (seperti, Bukit Tin­dawan, Bukit Acak, Bukit Ka­pa­lo Cubadak). Retakan ter­sebut terlihat pada pung­gu­ngan dan lembah per­bukitan. Dampak penebangan kayu di hutan mengakibatkan debit air sungai turun naik, serta de­gradasi pohon penyanggah.

“Sebelum terjadinya ben­cana banjir bandang atau galo­do, di kawasan Batubusuk (aliran Sungai Padangkaruah dan Padangjaniah) hampir tiap hari terjadi pembalakan liar. Menurut seorang pen­duduk yang tidak mau dise­butkan namanya, tiap hari ada sekitar 15 kubik kayu yang dihasilkan dari illegal logging,” ungkap Rico.

Pada umumnya, kayu di­am­bil dari hutan lindung di sekitar area kedua sumber Batang Kuranji tersebut. Dari penelusuran Rico dkk, warga Batubusuk yang berjumlah sekitar 150 KK, 90 persen terlibat dalam penebangan liar tersebut. Proses pengambilan kayu dilakukan secara manual dengan menggunakan gergaji mesin (chin shaw). Jumlah chinshaw yang beroperasi setiap hari mencapai 15 unit dengan 50 orang pekerja.

“Proses pengangkutan ka­yu dilakukan melalui aliran sungai. Setibanya di ben­du­ngan PLTA Kuranji milik PT Semen Padang, kayu-kayu tersebut dihanyutkan melalui boad atau dalam parit yang mengalir hingga ke turbin,” tambah Hanavi.

Penampung kayu hasil illegal logging berada dekat se­buah mushala Patamuan. Di sana kayu diolah dan dijual se­suai pesanan. “Tokenya adalah seorang tokoh masyarakat setempat,” ujar Rico.

Upah pengangkutan kayu Rp 150 ribu per kepala. Bia­sanya tiap tim berjumlah 6 orang­ dengan total biaya ang­kut ke bendungan Rp 800 ribu per kubik. “Menurut warga se­tem­pat, penebangan kayu su­dah ada sejak tahun 1950-an. Aki­bat penebangan liar, sumur ga­li warga sekitar sering me­nga­lami kekeringan. Di sepan­jang airan sungai sudah sangat susah di­temukan kayu besar,” papar Rico.

Berdasarkan penuturan penjaga pintu air bendungan PLTA Kuranji, Abu Tasar, sumber  galodo berasal dari dua sungai bertemu di ben­dungan tersebut yaitu Padang­karuah dan Padangjaniah. Sekitar pukul 17.00 WIB, 24 Juli 2012, air pada Padang­janiah membesar dengan mem­­­bawa serta material kayu lumpur dan bebatuan. Ber­lanjut pada pukul 19.00, air dari Padangkaruah dan Pa­dang­janiah membesar.

“Saat banjir bandang, Abu Tasar menceritakan, keting­gian debit air dari dasar em­bung bendungan (PLTA Ku­ranji) mencapai 4 meter. Aki­batnya, terjadi pen­dangkalan sungai dan pelebaran sungai karena besarnya debit air. Sehingga  PLTA Kuranji tidak berfungsi,” ulas Rico.

Terhadap temuan itu, Sek­ber PA Sumbar mendesak Pemko Padang dan Pemprov Sumbar secepatnya member­sihkan material kayu di sepan­jang aliran sungai, terutama di DAS Padangjaniah. “Perlunya ekspedisi lanjutan karena ber­dasarkan informasi masya­rakat, ada sumber air panas dari hulu Sungai Padang­ka­ruah. Melakukan penelitian lebih lanjut terkait retakan-retakan di punggungan Bukit Ngalau dan Bukit Alu-Alu,” kata Rico. (mg18)

Waspada Banjir dan Longsor Kota Padang

 Kota Padang
Waspada Banjir dan Longsor
Padang Today  Berita Peristiwa  Rabu, 12/09/2012 - 16:38 WIB  Tandri eka putra  385 klik
Waspada Banjir dan Longsor
Hujan lebat diprediksi akan terjadi di beberapa daerah di Sumatera Barat.Pusdalops Sumbar memperkirakan kondisi tersebut,rawan terhadap banjir,longsor dan gelombang tinggi.

"Masyarakat diminta waspada" sebut kepala Pusdalops BPBD Sumbar,Ade Eward.

Beberapa daerah yang diperkirakan akan terkena dampak yaitu,Kabupaten Agam,Padang Panjang,Sicincin,Bukittinggi,Padang Pariaman,Pasaman,Pesisir Selatan,Padang,kota Pariaman dan sekitarnya.

Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika memprediksi terjadi hujan pada hari ini dan besok.Hujan diperkirakan terjadi pada hampir seluruh wilayah Sumbar dengan kecepatan angin hingga 15 kilometer per jam dan kelembapan tertinggi 96 persen.Selain dinilai cukup lembab,cuaca dalam dua hari ini juga akan dingin dengan suhu 21-31 derajat celcius.(*)
[ Red/web administrator]-Selengkapnya di PadangEkspres,Posmetro padang, Rakyat Sumbar

Banjir Bandang Kota Padang Kembali Terjadi

 Kota Padang
Banjir Bandang, 8 Rumah Tertimbun Longsor
Tim Sar Berhasil Evakuasi 2 Jenazah
Padang Today  Berita Peristiwa  Kamis, 13/09/2012 - 03:42 WIB  Andri Mardiansyah  1763 klik
evakuasi korban longsor
Banjir bandang yang kembali menghantam sebagian Kota Padang Rabu sore (12/9) tak hanya membawa material berupa kayu yang diduga hasil dari praktek Ilegal Loging, namun juga membuat kondisi tanah menjadi labil. Terbukti dampak dari banjir bandang tersebut membuat beberapa titik di kawasan Batu busuk Longsor seketika, Delapan rumah dinyatakan hilang tertimbun longsor di Bukik Tabuk, Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukik Kecamatan Pauh, sedangkan korban saat ini baru dipastikan Empat Orang yang hilang, dua diantaranya atas nama Jamaris (45th) dan anaknya Nazwa (6th) berhasil dievakuasi Tim Sar gabungan yang terdiri dari Basarnas, Damkar, BPBD, TNI, PMI serta Warga Rt 4 Batu Busuk Padang dalam kondisi sudah tidak bernyawa lagi sekitar pukul 01.00 Wib dini hari.

Pantauan dilapangan, tak mudah bagi Tim Sar Gabungan untuk melakukan proses Evakuasi kedua Jenazah korban karena kondisi medan yang terbilang berat dan terjal ditambah lagi kondisi tanah tempat kejadian yang masih labil, kurangnya peralatan penerangan juga merupakan salah satu penghambat proses evakuasi.

Dikatakan Dasmizar Tayib, Camat Kecamatan Pauh, sekitar delapan rumah saat ini diperkirakan tertimbun longsor akibat banjir bandang, namun baru satu diantaranya yang sudah dipastikan menimbulkan korban jiwa, sedangkan Tujuh rumah lainnya belum bisa dipastikan menimbulkan korban jiwa karena tim evakuasi mengalami kesulitan untuk mencapai lokasi akibat struktur tanah yang masih labil dan minimnya peralatan penerangan.

"Saat ini Tim Evakuasi telah berhasil menemukan Jenazah Jamaris dan Nazwa, sedangkan dua lagi yang juga merupakan anak dari Jamaris, Nila dan Safa (3th) hingga kini belum diketahui bagaimana nasibnya,"ungkap Dasmizar Tayib, Kamis (13/9).

Ditambahkan Dasmizar, selain rumah keluarga korban Jamaris, masih terdapat Tujuh rumah lainnya yang diperkirakan juga ikut tertimbun longsor, namun belum bisa dipastikan apakah penghuninya ikut tertimbun atau selamat dari bencana tersebut, yang jelas Tim Sar akan memastikan kondisi pasti esok pagi. Diharapkan kepada semua relawan untuk dapat membantu proses pencarian dan evakuasi mengingat jarak kelokasi yang cukup jauh dengan medan yang cukup berat,imbuhnya.

Senada Badrul, Tokoh Masyarakat Batu Busuk, Tim Sar akan kembali memastikan kondisi esok pagi, namun saat ini yang paling dibutuhkan adalah peralatan penerangan, air Mineral serta beberapa alat bangunan seperti Cangkul dan Skop mengingat Alat berat tak mungkin bisa mencapai lokasi kejadian, sedangkan untuk Jenazah Jamaris dan Nazwa sudah dibawa turun dan akan dipastikan apakah dibawa ke Rumah sakit atau kerumah kerabat di Batu Busuk untuk segera disemayamkan.

Banjir kali ini merupakan banjir hebat selama Dua bulan terakhir, yang mana sebelumnya pada Selasa (24/7) sempat terjadi saat warga Kota Padang hendak berbuka puasa dibulan Ramadhan. Informasi yang berkembang, kuat dugaan banjir kali ini masih rentetan dari banjir pertama yang disebabkan praktek Ilegal Loging. (*)
[ Red/web administrator]-Selengkapnya di PadangEkspres,Posmetro padang, Rakyat Sumbar

Minggu, 29 April 2012

Mesjid tertua di padang

ngsung ke: navigasi, cari
Koordinat: 0.95455°LS 100.36942°BT
Masjid Raya Ganting
Masjidrayaganting.jpg Masjid Raya Ganting
Letak Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia
Afiliasi agama Islam
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur Masjid
Gaya arsitektur Neoklasik Eropa
Arah fasad Tenggara
Tahun selesai 1810
Spesifikasi
Menara 2
Masjid Raya Ganting sebelum memiliki dua menara sekitar tahun 1900-1923
Masjid Raya Ganting adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang terletak di Jalan Ganting No. 3, kelurahan Ganting, kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat.[1] Masjid ini didirikan pada tahun 1805 dan selesai pada tahun 1810, sehingga menjadi masjid tertua di kota Padang. Masjid Raya Ganting termasuk bangunan yang selamat dari hantaman gelombang tsunami akibat gempa bumi Sumatera pada tahun 1833.
Sejak abad ke-19, Masjid Raya Ganting mulai banyak dikunjungi beberapa pejabat tinggi negara, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tercatat dari beberapa pejabat negara yang pernah berkunjung sekaligus melaksanakan salat di Masjid Raya Ganting antara lain Soekarno, Mohammad Hatta, Hamengkubuwana IX, Achmad Syaichu, Abdul Haris Nasution, dan beberapa tokoh lainnya. Pada tahun 1942, Soekarno pernah menginap di salah satu rumah yang ada di belakang masjid, bahkan memberikan pidato di masjid ini.
Saat ini, selain digunakan sebagai aktifitas ibadah umat Islam, masjid satu lantai ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama dan pesantren kilat bagi pelajar. Bahkan telah menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di kota Padang. Di halaman masjid ini sebelumnya juga terdapat lembaga pendidikan Thawalib yang didirikan oleh Abdul Karim Amrullah pada tahun 1921.

Daftar isi

Pembangunan

Sebelumnya pada tahun 1790, letak masjid ini adalah di tepi Batang Arau, tepatnya di kaki Gunung Padang. Masjid dengan bentuk bangunan yang sangat sederhana ini dibuat dari bahan kayu dan atap yang dibuat dari rumbia. Masjid ini kemudian dihancurkan oleh pemerintah Hindia-Belanda akibat dari kebijakan pembuatan jalan ke pelabuhan Teluk Bayur. Tidak lama setelah itu, masjid ini kembali dibangun di lokasi yang sekarang yang berjarak sekitar 4 kilometer dari lokasi sebelumnya.[2] Pembangunan kembali tersebut diprakasai oleh tokoh masyarakat setempat, dimana pada tahun 1805 telah disepakati untuk mulai membangun masjid di tanah wakaf 7 suku yang diserahkan melalui Gubernur Jenderal Ragen Bakh, penguasa Hindia-Belanda di Sumatera Barat pada waktu itu. Dengan dukungan banyak pihak dan bantuan dari para saudagar dan ulama Minangkabau baik yang ada di Sumatera Barat maupun diluar Sumatera Barat, pada tahun 1810 pembangunan kembali Masjid Raya Ganting dapat diselesaikan.
Keberadaan masjid yang saat itu masih terlihat sederhana ini mendapat dukungan penuh dari salah seorang anggota Corps Genie Belanda berpangkat kapten yang menjabat sebagai Komandan Genie wilayah Gouvernement Sumatra's Westkust (wilayah yang meliputi Sumatera Barat dan Tapanuli sekarang). Sehingga dilakukanlah pembuatan bagian depan (fasad) masjid yang mirip dengan benteng Spanyol. Selain itu, lantai masjid yang terbuat dari batu kali bersusun diplester tanah liat juga diganti dengan semen yang didatangkan dari Jerman. Kemudian pada tahun 1900, dimulailah pemasangan tegel dari Belanda yang dipesan melalui N.V. Jacobson van Berg. Pemasangan tegel tersebut ditangani oleh tukang yang ditunjuk langsung oleh pabrik dan selesai pada tahun 1910. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembuatan menara pada bagian kiri dan kanan masjid yang selesai pada tahun 1967. Sebelum kedua menara itu selesai, pada tahun 1960 juga telah dilakukan pemasangan keramik pada 25 tiang ruang utama yang aslinya terbuat dari batu bata. Dinding di ruang utama juga dipasangi keramik, namun pada tahun 1995.

Sejarah

Dalam perjalanan sejarah Kota Padang, masjid ini turut memberikan andil. Selain lokasi pengembangan agama Islam di pulau Sumatera, juga pernah dijadikan lokasi Jambore Hizbul Wathan se-Indonesia pada tahun 1932. Kemudian menjadi tempat embarkasi haji pertama di Sumatera Tengah melalui pelabuhan Emmahaven (sekarang Teluk Bayur).[3]
Pada tahun 1918 seluruh ulama di Minangkabau mengadakan pertemuan di Masjid Raya Ganting untuk membahas langkah-langkah yang akan ditempuh dalam melaksanakan pemurnian ajaran agama Islam dari pemahaman mistik dan khufarat. Selanjutnya pada tahun 1921, Abdul Karim Amrullah mendirikan sekolah Thawalib di dalam pekarangan masjid sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat kota Padang saat itu, dimana alumninya kemudian mendirikan Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang merupakan cikal bakal Partai Masyumi.
Pada tahun 1942, Jepang mulai menduduki Indonesia, saat itu Soekarno yang ditahan Belanda di Bengkulu diungsikan ke Kutacane. Namun sesampainya di Painan, tentara Jepang sudah lebih dahulu menduduki Bukittinggi, sehingga Belanda merubah rencana semula dengan mengungsi ke Barus dan meninggalkan Sukarno di Painan. Selanjutnya oleh Hizbul Wathan yang saat itu bermarkas di Masjid Raya Ganting, menjemput Sukarno untuk dibawa ke Padang dengan menggunakan kendaraan pedati. Beberapa hari kemudian Sukarno dibawa ke Padang dan menginap di salah satu rumah pengurus Masjid Raya Ganting.
Selama pendudukan tentara Jepang di Sumatera Tengah, masjid ini menjadi tempat pembinaan prajurit Gyugun dan Hei Ho yang merupakan kesatuan tentara pribumi yang dibentuk oleh Jepang.

Arsitektur

Atap Masjid Raya Ganting
Arsitektur Masjid Raya Ganting merupakan perpaduan dari berbagai corak arsitektur sebab pengerjaannya melibatkan beragam etnik seperti Persia, Timur Tengah, Cina, dan Minangkabau.
Masjid Raya Ganting berdiri di atas lahan seluas 102 x 95,6 meter persegi. Masjid ini memiliki halaman yang cukup luas untuk menampung banyaknya jamaah yang melaksanakan Salat Ied di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Di sebelah selatan dan belakang masjid terdapat beberapa makam, salah satu makam yang ada di selatan masjid adalah makam Angku Syekh Haji Uma, salah satu pemrakasa pembangunan kembali Masjid Raya Ganting.
Bangunan masjid ini berbentuk persegi panjang yang simetris berukuran 42 x 39 meter. Bangunan terbagi atas serambi muka, serambi kanan, serambi kiri, dan ruang utama. Soko guru atau tiang utama masjid berjumlah 25 buah yang berbentuk segi enam dengan diameter 40 sampai 50 cm dan tinggi mencapai 4,2 meter. Tiang-tiang yang terbuat dari beton ini sama sekali tidak menggunakan tulang besi, sehinga banyak yang mulai retak akibat gempa.[4]
Tatanan atap masjid berupa atap susun berundak-undak sebanyak 5 tingkat. Ada celah di tiap bagian atap untuk pencahayaan. Tingkat pertama berbentuk segi empat. Sedangkan tingkat dua sampai empat berbentuk segi delapan. Tukang-tukang Cina sempat dikerahkan untuk mengerjakan atap kubah yang mirip bangunan atap Vihara Cina ini.

Referensi



Kerajaan-kerajaan Minangkabau ==
Menurut [[tambo Minangkabau]], pada periode abad ke-1 hingga abad ke-16, banyak berdiri kerajaan-kerajaan kecil di selingkaran Sumatera Barat. Kerajaan-kerajaan itu antara lain [[Kesultanan Kuntu]], [[Kerajaan Kandis]], [[Kerajaan Siguntur]], [[Kerajaan Pasumayan Koto Batu]], [[Kerajaan Bukit Batu Patah|Bukit Batu Patah]], [[Kerajaan Sungai Pagu]], [[Kerajaan Inderapura]], [[Kerajaan Jambu Lipo]], [[Kerajaan Taraguang]], [[Kerajaan Dusun Tuo]], [[Kerajaan Bungo Setangkai]], [[Kerajaan Talu]], [[Kerajaan Kinali]], [[Kerajaan Parit Batu]], [[Kerajaan Pulau Punjung]] dan [[Kerajaan Pagaruyung]]. Kerajaan-kerajaan ini tidak pernah berumur panjang, dan biasanya berada dibawah pengaruh kerajaan-kerajaan besar, Malayu dan Pagaruyung.

=== Kerajaan Malayu ===
{{utama|Kerajaan Dharmasraya}}

[[Kerajaan Melayu|Kerajaan Malayu]] diperkirakan pernah muncul pada tahun [[645]] yang diperkirakan terletak di hulu sungai [[Batang Hari]]. Berdasarkan [[Prasasti Kedukan Bukit]], kerajaan ini ditaklukan oleh [[Kerajaan Sriwijaya|Sriwijaya]] pada tahun [[682]]. Dan kemudian tahun [[1183]] muncul lagi berdasarkan [[Prasasti Grahi]] di [[Kamboja]], dan kemudian [[Negarakertagama]] dan [[Pararaton]] mencatat adanya Kerajaan Malayu yang beribukota di [[Dharmasraya]]. Sehingga muncullah [[Ekspedisi Pamalayu]] pada tahun 1275-1293 di bawah pimpinan [[Kebo Anabrang]] dari [[Kerajaan Singasari]]. Dan setelah penyerahan Arca Amonghapasa yang dipahatkan di [[Prasasti Padang Roco]], tim Ekpedisi Pamalayu kembali ke Jawa dengan membawa serta dua putri Raja Dharmasraya yaitu [[Dara Petak]] dan [[Dara Jingga]]. Dara Petak dinikahkan oleh [[Raden Wijaya]] raja [[Majapahit]] pewaris kerajaan Singasari, sedangkan [[Dara Jingga]] dengan [[Adwaya Brahman]]. Dari kedua putri ini lahirlah [[Jayanagara]], yang menjadi raja kedua Majapahit dan [[Adityawarman]] kemudian hari menjadi raja [[Pagaruyung]].

=== Kerajaan Pagaruyung ===
{{utama|Kerajaan Pagaruyung}}

Sejarah propinsi Sumatera Barat menjadi lebih terbuka sejak masa pemerintahan Adityawarman. Ra­ja ini cukup banyak meninggalkan [[prasasti]] mengenai dirinya, walaupun dia tidak pernah mengatakan dirinya sebagai Raja Minangkabau. Aditya­warman memang pernah memerintah di [[Kerajaan Pagaruyung|Pagaruyung]], suatu negeri yang di­percayai warga Minangkabau sebagai pusat kerajaannya.

Adityawarman adalah tokoh pen­ting dalam sejarah Minangkabau. Di samping memperkenalkan sistem pe­merintahan dalam bentuk kerajaan, dia juga membawa suatu sumbangan yang besar bagi alam Minangkabau. Kon­tribusinya yang cukup penting itu adalah penyebaran agama [[Buddha]]. Agama ini pernah punya pengaruh yang cukup kuat di Minangkabau. Ter­bukti dari nama beberapa nagari di Sumatera Barat dewasa ini yang berbau Budaya atau [[Jawa]] seperti [[Saruaso]], [[Pa­riangan]], [[Padang Barhalo]], [[Candi, Sumatra Barat|Candi]], [[Bia­ro]], [[Sumpur]], dan [[Selo]].

Sejarah Sumatera Barat sepe­ninggal Adityawarman hingga perte­ngahan abad ke-17 terlihat semakin kompleks. Pada masa ini hubungan Su­matera Barat dengan dunia luar, ter­utama Aceh semakin intensif. Sumate­ra Barat waktu itu berada dalam dominasi politik [[Aceh]] yang juga memo­nopoli kegiatan perekonomian di dae­rah ini. Seiring dengan semakin inten­sifnya hubungan tersebut, suatu nilai baru mulai dimasukkan ke Sumatera Barat. Nilai baru itu akhimya menjadi suatu fundamen yang begitu kukuh melandasi kehidupan sosial-budaya masyarakat Sumatera Barat. Nilai baru tersebut adalah [[agama Islam]].

[[Syekh Burhanuddin]] dianggap sebagai pe­nyebar pertama Islam di Sumatera Barat. Sebelum mengembangkan aga­ma Islam di Sumatera Barat, ulama ini pernah menuntut ilmu di Aceh.

=== Kerajaan Inderapura ===
{{utama|Kerajaan Inderapura}}

Jauh sebelum Kerajaan Pagaruyung berdiri, di bagian selatan Sumatera Barat sudah berdiri kerajaan Inderapura yang berpusat di Inderapura (kecamatan [[Pancung Soal, Pesisir Selatan]] sekarang ini) sekitar awal abad 12. Setelah munculnya Kerajaan Pagaruyung, Inderapura pun bersama [[Kerajaan Sungai Pagu]] akhirnya menjadi vazal kerajan Pagaruyung.

Setelah Indonesia merdeka sebagian besar wilayah Inderapura dimasukkan kedalam bagian wilayah provinsi Sumatera Barat dan sebagian ke wilayah Provinsi Bengkulu yaitu kabupaten Pesisir Selatan sekarang ini.