Kamis, 13 September 2012

Sisa Material Galodo

METROPOLIS
Sisa Material Galodo Mengancam
Sekber PA: Illegal Logging Telah Berlangsung Lama
Padang Ekspres • Selasa, 11/09/2012 11:43 WIB • • 360 klik
Tumpukan bekas potongan kayu masih tersisa di sepanjang Batang Kuranji.
Batubusuk, Padek—Banjir bandang atau galodo pada 24 Juli lalu, menyisakan ancaman bencana ekologi yang nyata. Material galodo tak hanyut hingga ke muara, justru me­numpuk di beberapa titik sep­anjang aliran Sungai Padang­janiah, salah satu sumber Batang Kuranji.

Demikian temuan hasil ekspedisi yang dilakukan Se­kretaris Bersama (Sekber) Pecinta Alam Sumatera Barat (Sumbar) di sepanjang aliran Sungai Padangjaniah, bebera­pa hari yang lalu. Tim ekspe­disi yang dikoordinatori Rico Rahmad, beranggotakan  Ha­na­vi, Wilbran, Nof dan Yose.

Tim ekspedisi menemukan banyak titik longsoran di pung­gung-punggung bukit yang berjejer  dari Patamuan hingga perbatasan Kabupaten Solok. Dampak galodo juga me­nye­babkan pelebaran sungai de­ngan skala kecil hingga dua kali lapangan sepakbola.  Ge­londongan kayu bekas dite­bang secara ilegal maupun yang tercerabut dari akarnya karena derasnya arus air me­numpuk di badan sungai yang berjumlah puluhan titik.  Diki­tari bebatuan berdiameter kecil hingga besar sangat po­tensial terbentuknya embung-em­bung, atau titik tumpukan air.

“Galodo juga mengikis ping­­giran sungai sepanjang 8 kilometer ke hulu tersebut. Tak hanya menyebabkan pohon bertumbangan, galodo juga menimbulkan erosi di sejum­lah titik di pinggir sungai.

Di sela-sela punggungan bukit juga bermunculan anak sungai baru yang diduga berasal dari mata air di perbukitan,” jelas Rico Rachmad dalam konfe­rensi pers di Sekratariat Bivac, Ulakkarang, kemarin.

Ekspedisi empat hari ini (31/8 sampai 3-9)  juga me­nemukan kayu dalam proses penebangan, kayu olahan ber­je­nis 6x10 dan 6x12 sekitar 15 kubik kayu.

Berdasarkan observasi, penebangan kayu dilakukan dengan sistem tebang pilih. Meski demikian, pada keting­gian di atas 300 Mdpl, kondisi hutan masih rapat. “Di ke­tinggian 400 Mdpl, tim juga mencium aroma belerang. Se­makin ke atas, aroma tersebut semakin menyengat. Diduga aroma belerang berasal dari arah timur atau dekat perb­a­tasan dengan Kabupaten So­lok. Tim juga menemukan serpihan jenis bebatuan gu­nung api (pembekuan larva) pada ketinggian 600 Mdpl hingga 1.000 Mdpl dan jejak harimau dan rusa pada keting­gian 400 Mdpl hingga 800 Mdpl,” jelasnya.

Menurut analisa tim Sek­ber, galodo disebabkan oleh kon­­disi curah hujan yang sa­ngat besar yang disertai angin ken­­cang yang mengakibatkan run­tuhnya tebing perbukitan dengan ke­miringan 80-90 derajat.

Potensi Bencana

Melihat banyaknya kayu-kayu yang melintang pada aliran sungai dan banyaknya tumpukan kayu-kayu besar, mencapai diameter 4 meter, disertai dengan bebatuan be­sar dan material batu yang menumpuk di sepanjang ali­ran Sungai Padangjaniah, ber­potensi besar terjadi em­bung (titik kumpul air) yang sewak­tu-waktu bisa memicu galodo lebih besar dengan membawa material kayu dan batu.

Di samping itu, beber Rico, masih banyaknya retakan-retakan yang menganga di 7 titik bukit (seperti, Bukit Tin­dawan, Bukit Acak, Bukit Ka­pa­lo Cubadak). Retakan ter­sebut terlihat pada pung­gu­ngan dan lembah per­bukitan. Dampak penebangan kayu di hutan mengakibatkan debit air sungai turun naik, serta de­gradasi pohon penyanggah.

“Sebelum terjadinya ben­cana banjir bandang atau galo­do, di kawasan Batubusuk (aliran Sungai Padangkaruah dan Padangjaniah) hampir tiap hari terjadi pembalakan liar. Menurut seorang pen­duduk yang tidak mau dise­butkan namanya, tiap hari ada sekitar 15 kubik kayu yang dihasilkan dari illegal logging,” ungkap Rico.

Pada umumnya, kayu di­am­bil dari hutan lindung di sekitar area kedua sumber Batang Kuranji tersebut. Dari penelusuran Rico dkk, warga Batubusuk yang berjumlah sekitar 150 KK, 90 persen terlibat dalam penebangan liar tersebut. Proses pengambilan kayu dilakukan secara manual dengan menggunakan gergaji mesin (chin shaw). Jumlah chinshaw yang beroperasi setiap hari mencapai 15 unit dengan 50 orang pekerja.

“Proses pengangkutan ka­yu dilakukan melalui aliran sungai. Setibanya di ben­du­ngan PLTA Kuranji milik PT Semen Padang, kayu-kayu tersebut dihanyutkan melalui boad atau dalam parit yang mengalir hingga ke turbin,” tambah Hanavi.

Penampung kayu hasil illegal logging berada dekat se­buah mushala Patamuan. Di sana kayu diolah dan dijual se­suai pesanan. “Tokenya adalah seorang tokoh masyarakat setempat,” ujar Rico.

Upah pengangkutan kayu Rp 150 ribu per kepala. Bia­sanya tiap tim berjumlah 6 orang­ dengan total biaya ang­kut ke bendungan Rp 800 ribu per kubik. “Menurut warga se­tem­pat, penebangan kayu su­dah ada sejak tahun 1950-an. Aki­bat penebangan liar, sumur ga­li warga sekitar sering me­nga­lami kekeringan. Di sepan­jang airan sungai sudah sangat susah di­temukan kayu besar,” papar Rico.

Berdasarkan penuturan penjaga pintu air bendungan PLTA Kuranji, Abu Tasar, sumber  galodo berasal dari dua sungai bertemu di ben­dungan tersebut yaitu Padang­karuah dan Padangjaniah. Sekitar pukul 17.00 WIB, 24 Juli 2012, air pada Padang­janiah membesar dengan mem­­­bawa serta material kayu lumpur dan bebatuan. Ber­lanjut pada pukul 19.00, air dari Padangkaruah dan Pa­dang­janiah membesar.

“Saat banjir bandang, Abu Tasar menceritakan, keting­gian debit air dari dasar em­bung bendungan (PLTA Ku­ranji) mencapai 4 meter. Aki­batnya, terjadi pen­dangkalan sungai dan pelebaran sungai karena besarnya debit air. Sehingga  PLTA Kuranji tidak berfungsi,” ulas Rico.

Terhadap temuan itu, Sek­ber PA Sumbar mendesak Pemko Padang dan Pemprov Sumbar secepatnya member­sihkan material kayu di sepan­jang aliran sungai, terutama di DAS Padangjaniah. “Perlunya ekspedisi lanjutan karena ber­dasarkan informasi masya­rakat, ada sumber air panas dari hulu Sungai Padang­ka­ruah. Melakukan penelitian lebih lanjut terkait retakan-retakan di punggungan Bukit Ngalau dan Bukit Alu-Alu,” kata Rico. (mg18)

Waspada Banjir dan Longsor Kota Padang

 Kota Padang
Waspada Banjir dan Longsor
Padang Today  Berita Peristiwa  Rabu, 12/09/2012 - 16:38 WIB  Tandri eka putra  385 klik
Waspada Banjir dan Longsor
Hujan lebat diprediksi akan terjadi di beberapa daerah di Sumatera Barat.Pusdalops Sumbar memperkirakan kondisi tersebut,rawan terhadap banjir,longsor dan gelombang tinggi.

"Masyarakat diminta waspada" sebut kepala Pusdalops BPBD Sumbar,Ade Eward.

Beberapa daerah yang diperkirakan akan terkena dampak yaitu,Kabupaten Agam,Padang Panjang,Sicincin,Bukittinggi,Padang Pariaman,Pasaman,Pesisir Selatan,Padang,kota Pariaman dan sekitarnya.

Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika memprediksi terjadi hujan pada hari ini dan besok.Hujan diperkirakan terjadi pada hampir seluruh wilayah Sumbar dengan kecepatan angin hingga 15 kilometer per jam dan kelembapan tertinggi 96 persen.Selain dinilai cukup lembab,cuaca dalam dua hari ini juga akan dingin dengan suhu 21-31 derajat celcius.(*)
[ Red/web administrator]-Selengkapnya di PadangEkspres,Posmetro padang, Rakyat Sumbar

Banjir Bandang Kota Padang Kembali Terjadi

 Kota Padang
Banjir Bandang, 8 Rumah Tertimbun Longsor
Tim Sar Berhasil Evakuasi 2 Jenazah
Padang Today  Berita Peristiwa  Kamis, 13/09/2012 - 03:42 WIB  Andri Mardiansyah  1763 klik
evakuasi korban longsor
Banjir bandang yang kembali menghantam sebagian Kota Padang Rabu sore (12/9) tak hanya membawa material berupa kayu yang diduga hasil dari praktek Ilegal Loging, namun juga membuat kondisi tanah menjadi labil. Terbukti dampak dari banjir bandang tersebut membuat beberapa titik di kawasan Batu busuk Longsor seketika, Delapan rumah dinyatakan hilang tertimbun longsor di Bukik Tabuk, Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukik Kecamatan Pauh, sedangkan korban saat ini baru dipastikan Empat Orang yang hilang, dua diantaranya atas nama Jamaris (45th) dan anaknya Nazwa (6th) berhasil dievakuasi Tim Sar gabungan yang terdiri dari Basarnas, Damkar, BPBD, TNI, PMI serta Warga Rt 4 Batu Busuk Padang dalam kondisi sudah tidak bernyawa lagi sekitar pukul 01.00 Wib dini hari.

Pantauan dilapangan, tak mudah bagi Tim Sar Gabungan untuk melakukan proses Evakuasi kedua Jenazah korban karena kondisi medan yang terbilang berat dan terjal ditambah lagi kondisi tanah tempat kejadian yang masih labil, kurangnya peralatan penerangan juga merupakan salah satu penghambat proses evakuasi.

Dikatakan Dasmizar Tayib, Camat Kecamatan Pauh, sekitar delapan rumah saat ini diperkirakan tertimbun longsor akibat banjir bandang, namun baru satu diantaranya yang sudah dipastikan menimbulkan korban jiwa, sedangkan Tujuh rumah lainnya belum bisa dipastikan menimbulkan korban jiwa karena tim evakuasi mengalami kesulitan untuk mencapai lokasi akibat struktur tanah yang masih labil dan minimnya peralatan penerangan.

"Saat ini Tim Evakuasi telah berhasil menemukan Jenazah Jamaris dan Nazwa, sedangkan dua lagi yang juga merupakan anak dari Jamaris, Nila dan Safa (3th) hingga kini belum diketahui bagaimana nasibnya,"ungkap Dasmizar Tayib, Kamis (13/9).

Ditambahkan Dasmizar, selain rumah keluarga korban Jamaris, masih terdapat Tujuh rumah lainnya yang diperkirakan juga ikut tertimbun longsor, namun belum bisa dipastikan apakah penghuninya ikut tertimbun atau selamat dari bencana tersebut, yang jelas Tim Sar akan memastikan kondisi pasti esok pagi. Diharapkan kepada semua relawan untuk dapat membantu proses pencarian dan evakuasi mengingat jarak kelokasi yang cukup jauh dengan medan yang cukup berat,imbuhnya.

Senada Badrul, Tokoh Masyarakat Batu Busuk, Tim Sar akan kembali memastikan kondisi esok pagi, namun saat ini yang paling dibutuhkan adalah peralatan penerangan, air Mineral serta beberapa alat bangunan seperti Cangkul dan Skop mengingat Alat berat tak mungkin bisa mencapai lokasi kejadian, sedangkan untuk Jenazah Jamaris dan Nazwa sudah dibawa turun dan akan dipastikan apakah dibawa ke Rumah sakit atau kerumah kerabat di Batu Busuk untuk segera disemayamkan.

Banjir kali ini merupakan banjir hebat selama Dua bulan terakhir, yang mana sebelumnya pada Selasa (24/7) sempat terjadi saat warga Kota Padang hendak berbuka puasa dibulan Ramadhan. Informasi yang berkembang, kuat dugaan banjir kali ini masih rentetan dari banjir pertama yang disebabkan praktek Ilegal Loging. (*)
[ Red/web administrator]-Selengkapnya di PadangEkspres,Posmetro padang, Rakyat Sumbar

Minggu, 29 April 2012

Mesjid tertua di padang

ngsung ke: navigasi, cari
Koordinat: 0.95455°LS 100.36942°BT
Masjid Raya Ganting
Masjidrayaganting.jpg Masjid Raya Ganting
Letak Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia
Afiliasi agama Islam
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur Masjid
Gaya arsitektur Neoklasik Eropa
Arah fasad Tenggara
Tahun selesai 1810
Spesifikasi
Menara 2
Masjid Raya Ganting sebelum memiliki dua menara sekitar tahun 1900-1923
Masjid Raya Ganting adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang terletak di Jalan Ganting No. 3, kelurahan Ganting, kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat.[1] Masjid ini didirikan pada tahun 1805 dan selesai pada tahun 1810, sehingga menjadi masjid tertua di kota Padang. Masjid Raya Ganting termasuk bangunan yang selamat dari hantaman gelombang tsunami akibat gempa bumi Sumatera pada tahun 1833.
Sejak abad ke-19, Masjid Raya Ganting mulai banyak dikunjungi beberapa pejabat tinggi negara, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tercatat dari beberapa pejabat negara yang pernah berkunjung sekaligus melaksanakan salat di Masjid Raya Ganting antara lain Soekarno, Mohammad Hatta, Hamengkubuwana IX, Achmad Syaichu, Abdul Haris Nasution, dan beberapa tokoh lainnya. Pada tahun 1942, Soekarno pernah menginap di salah satu rumah yang ada di belakang masjid, bahkan memberikan pidato di masjid ini.
Saat ini, selain digunakan sebagai aktifitas ibadah umat Islam, masjid satu lantai ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama dan pesantren kilat bagi pelajar. Bahkan telah menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di kota Padang. Di halaman masjid ini sebelumnya juga terdapat lembaga pendidikan Thawalib yang didirikan oleh Abdul Karim Amrullah pada tahun 1921.

Daftar isi

Pembangunan

Sebelumnya pada tahun 1790, letak masjid ini adalah di tepi Batang Arau, tepatnya di kaki Gunung Padang. Masjid dengan bentuk bangunan yang sangat sederhana ini dibuat dari bahan kayu dan atap yang dibuat dari rumbia. Masjid ini kemudian dihancurkan oleh pemerintah Hindia-Belanda akibat dari kebijakan pembuatan jalan ke pelabuhan Teluk Bayur. Tidak lama setelah itu, masjid ini kembali dibangun di lokasi yang sekarang yang berjarak sekitar 4 kilometer dari lokasi sebelumnya.[2] Pembangunan kembali tersebut diprakasai oleh tokoh masyarakat setempat, dimana pada tahun 1805 telah disepakati untuk mulai membangun masjid di tanah wakaf 7 suku yang diserahkan melalui Gubernur Jenderal Ragen Bakh, penguasa Hindia-Belanda di Sumatera Barat pada waktu itu. Dengan dukungan banyak pihak dan bantuan dari para saudagar dan ulama Minangkabau baik yang ada di Sumatera Barat maupun diluar Sumatera Barat, pada tahun 1810 pembangunan kembali Masjid Raya Ganting dapat diselesaikan.
Keberadaan masjid yang saat itu masih terlihat sederhana ini mendapat dukungan penuh dari salah seorang anggota Corps Genie Belanda berpangkat kapten yang menjabat sebagai Komandan Genie wilayah Gouvernement Sumatra's Westkust (wilayah yang meliputi Sumatera Barat dan Tapanuli sekarang). Sehingga dilakukanlah pembuatan bagian depan (fasad) masjid yang mirip dengan benteng Spanyol. Selain itu, lantai masjid yang terbuat dari batu kali bersusun diplester tanah liat juga diganti dengan semen yang didatangkan dari Jerman. Kemudian pada tahun 1900, dimulailah pemasangan tegel dari Belanda yang dipesan melalui N.V. Jacobson van Berg. Pemasangan tegel tersebut ditangani oleh tukang yang ditunjuk langsung oleh pabrik dan selesai pada tahun 1910. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembuatan menara pada bagian kiri dan kanan masjid yang selesai pada tahun 1967. Sebelum kedua menara itu selesai, pada tahun 1960 juga telah dilakukan pemasangan keramik pada 25 tiang ruang utama yang aslinya terbuat dari batu bata. Dinding di ruang utama juga dipasangi keramik, namun pada tahun 1995.

Sejarah

Dalam perjalanan sejarah Kota Padang, masjid ini turut memberikan andil. Selain lokasi pengembangan agama Islam di pulau Sumatera, juga pernah dijadikan lokasi Jambore Hizbul Wathan se-Indonesia pada tahun 1932. Kemudian menjadi tempat embarkasi haji pertama di Sumatera Tengah melalui pelabuhan Emmahaven (sekarang Teluk Bayur).[3]
Pada tahun 1918 seluruh ulama di Minangkabau mengadakan pertemuan di Masjid Raya Ganting untuk membahas langkah-langkah yang akan ditempuh dalam melaksanakan pemurnian ajaran agama Islam dari pemahaman mistik dan khufarat. Selanjutnya pada tahun 1921, Abdul Karim Amrullah mendirikan sekolah Thawalib di dalam pekarangan masjid sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat kota Padang saat itu, dimana alumninya kemudian mendirikan Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang merupakan cikal bakal Partai Masyumi.
Pada tahun 1942, Jepang mulai menduduki Indonesia, saat itu Soekarno yang ditahan Belanda di Bengkulu diungsikan ke Kutacane. Namun sesampainya di Painan, tentara Jepang sudah lebih dahulu menduduki Bukittinggi, sehingga Belanda merubah rencana semula dengan mengungsi ke Barus dan meninggalkan Sukarno di Painan. Selanjutnya oleh Hizbul Wathan yang saat itu bermarkas di Masjid Raya Ganting, menjemput Sukarno untuk dibawa ke Padang dengan menggunakan kendaraan pedati. Beberapa hari kemudian Sukarno dibawa ke Padang dan menginap di salah satu rumah pengurus Masjid Raya Ganting.
Selama pendudukan tentara Jepang di Sumatera Tengah, masjid ini menjadi tempat pembinaan prajurit Gyugun dan Hei Ho yang merupakan kesatuan tentara pribumi yang dibentuk oleh Jepang.

Arsitektur

Atap Masjid Raya Ganting
Arsitektur Masjid Raya Ganting merupakan perpaduan dari berbagai corak arsitektur sebab pengerjaannya melibatkan beragam etnik seperti Persia, Timur Tengah, Cina, dan Minangkabau.
Masjid Raya Ganting berdiri di atas lahan seluas 102 x 95,6 meter persegi. Masjid ini memiliki halaman yang cukup luas untuk menampung banyaknya jamaah yang melaksanakan Salat Ied di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Di sebelah selatan dan belakang masjid terdapat beberapa makam, salah satu makam yang ada di selatan masjid adalah makam Angku Syekh Haji Uma, salah satu pemrakasa pembangunan kembali Masjid Raya Ganting.
Bangunan masjid ini berbentuk persegi panjang yang simetris berukuran 42 x 39 meter. Bangunan terbagi atas serambi muka, serambi kanan, serambi kiri, dan ruang utama. Soko guru atau tiang utama masjid berjumlah 25 buah yang berbentuk segi enam dengan diameter 40 sampai 50 cm dan tinggi mencapai 4,2 meter. Tiang-tiang yang terbuat dari beton ini sama sekali tidak menggunakan tulang besi, sehinga banyak yang mulai retak akibat gempa.[4]
Tatanan atap masjid berupa atap susun berundak-undak sebanyak 5 tingkat. Ada celah di tiap bagian atap untuk pencahayaan. Tingkat pertama berbentuk segi empat. Sedangkan tingkat dua sampai empat berbentuk segi delapan. Tukang-tukang Cina sempat dikerahkan untuk mengerjakan atap kubah yang mirip bangunan atap Vihara Cina ini.

Referensi



Kerajaan-kerajaan Minangkabau ==
Menurut [[tambo Minangkabau]], pada periode abad ke-1 hingga abad ke-16, banyak berdiri kerajaan-kerajaan kecil di selingkaran Sumatera Barat. Kerajaan-kerajaan itu antara lain [[Kesultanan Kuntu]], [[Kerajaan Kandis]], [[Kerajaan Siguntur]], [[Kerajaan Pasumayan Koto Batu]], [[Kerajaan Bukit Batu Patah|Bukit Batu Patah]], [[Kerajaan Sungai Pagu]], [[Kerajaan Inderapura]], [[Kerajaan Jambu Lipo]], [[Kerajaan Taraguang]], [[Kerajaan Dusun Tuo]], [[Kerajaan Bungo Setangkai]], [[Kerajaan Talu]], [[Kerajaan Kinali]], [[Kerajaan Parit Batu]], [[Kerajaan Pulau Punjung]] dan [[Kerajaan Pagaruyung]]. Kerajaan-kerajaan ini tidak pernah berumur panjang, dan biasanya berada dibawah pengaruh kerajaan-kerajaan besar, Malayu dan Pagaruyung.

=== Kerajaan Malayu ===
{{utama|Kerajaan Dharmasraya}}

[[Kerajaan Melayu|Kerajaan Malayu]] diperkirakan pernah muncul pada tahun [[645]] yang diperkirakan terletak di hulu sungai [[Batang Hari]]. Berdasarkan [[Prasasti Kedukan Bukit]], kerajaan ini ditaklukan oleh [[Kerajaan Sriwijaya|Sriwijaya]] pada tahun [[682]]. Dan kemudian tahun [[1183]] muncul lagi berdasarkan [[Prasasti Grahi]] di [[Kamboja]], dan kemudian [[Negarakertagama]] dan [[Pararaton]] mencatat adanya Kerajaan Malayu yang beribukota di [[Dharmasraya]]. Sehingga muncullah [[Ekspedisi Pamalayu]] pada tahun 1275-1293 di bawah pimpinan [[Kebo Anabrang]] dari [[Kerajaan Singasari]]. Dan setelah penyerahan Arca Amonghapasa yang dipahatkan di [[Prasasti Padang Roco]], tim Ekpedisi Pamalayu kembali ke Jawa dengan membawa serta dua putri Raja Dharmasraya yaitu [[Dara Petak]] dan [[Dara Jingga]]. Dara Petak dinikahkan oleh [[Raden Wijaya]] raja [[Majapahit]] pewaris kerajaan Singasari, sedangkan [[Dara Jingga]] dengan [[Adwaya Brahman]]. Dari kedua putri ini lahirlah [[Jayanagara]], yang menjadi raja kedua Majapahit dan [[Adityawarman]] kemudian hari menjadi raja [[Pagaruyung]].

=== Kerajaan Pagaruyung ===
{{utama|Kerajaan Pagaruyung}}

Sejarah propinsi Sumatera Barat menjadi lebih terbuka sejak masa pemerintahan Adityawarman. Ra­ja ini cukup banyak meninggalkan [[prasasti]] mengenai dirinya, walaupun dia tidak pernah mengatakan dirinya sebagai Raja Minangkabau. Aditya­warman memang pernah memerintah di [[Kerajaan Pagaruyung|Pagaruyung]], suatu negeri yang di­percayai warga Minangkabau sebagai pusat kerajaannya.

Adityawarman adalah tokoh pen­ting dalam sejarah Minangkabau. Di samping memperkenalkan sistem pe­merintahan dalam bentuk kerajaan, dia juga membawa suatu sumbangan yang besar bagi alam Minangkabau. Kon­tribusinya yang cukup penting itu adalah penyebaran agama [[Buddha]]. Agama ini pernah punya pengaruh yang cukup kuat di Minangkabau. Ter­bukti dari nama beberapa nagari di Sumatera Barat dewasa ini yang berbau Budaya atau [[Jawa]] seperti [[Saruaso]], [[Pa­riangan]], [[Padang Barhalo]], [[Candi, Sumatra Barat|Candi]], [[Bia­ro]], [[Sumpur]], dan [[Selo]].

Sejarah Sumatera Barat sepe­ninggal Adityawarman hingga perte­ngahan abad ke-17 terlihat semakin kompleks. Pada masa ini hubungan Su­matera Barat dengan dunia luar, ter­utama Aceh semakin intensif. Sumate­ra Barat waktu itu berada dalam dominasi politik [[Aceh]] yang juga memo­nopoli kegiatan perekonomian di dae­rah ini. Seiring dengan semakin inten­sifnya hubungan tersebut, suatu nilai baru mulai dimasukkan ke Sumatera Barat. Nilai baru itu akhimya menjadi suatu fundamen yang begitu kukuh melandasi kehidupan sosial-budaya masyarakat Sumatera Barat. Nilai baru tersebut adalah [[agama Islam]].

[[Syekh Burhanuddin]] dianggap sebagai pe­nyebar pertama Islam di Sumatera Barat. Sebelum mengembangkan aga­ma Islam di Sumatera Barat, ulama ini pernah menuntut ilmu di Aceh.

=== Kerajaan Inderapura ===
{{utama|Kerajaan Inderapura}}

Jauh sebelum Kerajaan Pagaruyung berdiri, di bagian selatan Sumatera Barat sudah berdiri kerajaan Inderapura yang berpusat di Inderapura (kecamatan [[Pancung Soal, Pesisir Selatan]] sekarang ini) sekitar awal abad 12. Setelah munculnya Kerajaan Pagaruyung, Inderapura pun bersama [[Kerajaan Sungai Pagu]] akhirnya menjadi vazal kerajan Pagaruyung.

Setelah Indonesia merdeka sebagian besar wilayah Inderapura dimasukkan kedalam bagian wilayah provinsi Sumatera Barat dan sebagian ke wilayah Provinsi Bengkulu yaitu kabupaten Pesisir Selatan sekarang ini.

Petualangan Kapal SS Jesmond & penemuan Atlantis yang muncul dari dalam laut

Petualangan Kapal SS Jesmond & penemuan Atlantis yang muncul dari dalam laut

1.6.11

Tidak ada yang tahu dimana letak benua Atlantis yang sebenarnya. Benua misterius yang disinggung oleh Plato ini memang tenggelam karena gempa dan saat ini dipercaya berada di dasar laut. Namun, pada tahun 1882, sebuah kapal dagang bernama SS Jesmond menemukan sebuah pulau yang sepertinya baru saja muncul dari dasar laut. Pulau itu dipercaya merupakan sisa-sisa peradaban Atlantis karena artefak-artefak yang ditemukan di atasnya.

Menurut legenda, pada tanggal 1 Maret 1882, kapal dagang Inggris seberat 1495 ton bernama SS Jesmond yang mengangkut buah-buah kering sedang dalam pelayaran rutinnya melintasi Samudera Atlantik. Kapal ini berangkat dari Messina, Sisilia, dengan tujuan New Orleans. Seharusnya pelayaran ini hanya menjadi pelayaran rutin bagi para awak, termasuk sang kapten kapal, David Amory Robson.



Pada saat itu, mereka baru saja melewati selat Gibraltar dan berada sekitar 200 mil sebelah barat Madeira dan di sebelah selatan Azores, kurang lebih pada jarak yang sama.

Kemana pun mereka melemparkan pandangan, hanya samudera yang terlihat. Namun, tidak berapa lama kemudian, mereka melihat sesuatu yang lain di permukaan air.

Tidak seperti biasanya, hari itu lumpur tebal terlihat menutupi permukaan air. Bukan itu saja, kapten Robson juga melihat ikan-ikan mati yang diperkirakan berjumlah setengah juta ton tersebar di area seluas 7.500 mil persegi.

Robson mengira sesuatu sedang terjadi di dalam perairan, tetapi ia tidak bisa memastikannya.

Ia memerintahkan sang juru mudi untuk terus menjalankan kapal, melewati jutaan ikan-ikan mati dan lumpur yang tebal.

Keesokan paginya, sesuatu yang aneh terlihat. SS Jesmond, yang saat itu masih berlayar sesuai dengan arah yang telah ditentukan, menemukan sebuah pulau misterius terbentang di hadapannya. Kapten Robson menyadari kalau pulau ini mungkin baru saja muncul dari dalam laut. Ia sudah biasa melewati jalur ini dan tidak pernah melihatnya sebelumnya. Lagipula, petanya menunjukkan kalau wilayah ini tidak memiliki daratan sama sekali.

Pulau itu berukuran besar, sekitar 30 mil dari utara ke selatan. Di atas pulau tersebut, terlihat adanya sebuah gunung yang mengeluarkan asap.

Pada saat itu, Kapten Robson menerima berita dari stasiun pemantau di Azores dan Canary yang melaporkan adanya letusan kecil gunung api bawah laut. Sekarang Robson yakin kalau aktivitas gunung itu telah menyebabkan kematian jutaan ikan dan munculnya lumpur misterius di atas permukaan laut. Karena itu ia berpikir kalau kemunculan pulau misterius di hadapannya mungkin juga dikarenakan aktivitas gunung berapi itu.

Rasa ingin tahu Robson mulai bangkit. Lalu ia memimpin sebuah tim kecil untuk menyelidiki pulau itu.

Ketika ia menginjakkan kaki di pulau itu, ia menemukan kalau tempat itu didominasi oleh basalt hitam dan sedimen tanah yang terbentuk dengan baik. Di atasnya juga terlihat banyak ikan mati, sama seperti di perairan yang mereka jumpai sebelumnya. Permukaan pulau itu kosong, tidak terdapat tanaman ataupun pantai yang berpasir. Selain itu, banyak terdapat celah-celah alami yang mengeluarkan uap secara konstan.

Tidak berapa lama kemudian, tanpa sengaja seorang awak kapal menemukan sebuah benda yang setelah diperhatikan dengan teliti ternyata sebuah mata anak panah.

Sekarang mereka menjadi lebih antusias.

Lalu mereka mulai menggali secara acak dengan semangat hingga kembali menemukan sejumlah mata anak panah bersama dengan pisau-pisau kecil.

Robson segera kembali ke kapal dan mengambil peralatan yang lebih lengkap. Kali ini ia juga membawa 15 orang sukarelawan. Menjelang malam, mereka telah menemukan artefak-artefak lain yang sangat di luar dugaan.

Mereka menemukan sebuah patung wanita yang dipenuhi oleh lumut. Patung itu diukir pada satu sisi batu dan ukurannya sedikit lebih besar dibanding manusia pada umumnya. Lebih jauh ke tengah pulau, mereka menemukan dua buah dinding batu. Di dekatnya, mereka menemukan sebuah pedang yang terbuat dari logam berwarna kuning yang tidak diketahui jenisnya.

Mereka juga menemukan mata tombak, mata kapak, cincin-cincin logam dan keramik-keramik berbentuk burung dan hewan-hewan lain. Lalu, mereka juga menemukan dua buah toples tanah liat besar yang didalamnya berisi sisa-sisa tulang dengan tengkorak manusia. Yang cukup luar biasa adalah penemuan sebuah sarkofagus dengan mumi di dalamnya.

Robson menyadari kalau mereka telah menemukan sisa-sisa peradaban masa lampau. Dan ini cukup luar biasa karena pulau itu sepertinya baru muncul dari dalam laut.

Ia ingin terus melanjutkan pancarian, namun cuaca mulai tidak mendukung sehingga ia memutuskan untuk kembali ke kapal dengan membawa semua artefak yang ditemukannya. Namun, ia berniat untuk kembali lagi. Jadi ia menandai posisi pulau tersebut di catatannya, yaitu 31° 25′ N, 28° 40′ W.



Ia memerintahkan untuk mengangkat jangkar dan melanjutkan perjalanan. SS Jesmond tiba di New Orleans pada tanggal 31 Maret.

Setelah tiba di New Orleans, penemuan pulau dan artefak-artefak misterius tersebut mulai terdengar oleh media. Lalu, sebuah koran lokal memberitakannya hingga kemudian menyebar ke seluruh negara.

Wartawan dari harian New Orleans Times Picayune yang mewawancari Robson menulis kalau ia telah diperlihatkan artefak-artefak yang ditemukan dan tidak merasa kalau benda-benda itu palsu. Wartawan itu juga mengatakan kalau kapten Robson berniat menyumbangkan semua artefak tersebut kepada museum Inggris.

Namun, kemudian semuanya menjadi misteri.

Pada tanggal 19 Mei, Robson diketahui kembali ke Inggris tanpa membawa penemuannya.

Sejak itu pula, keberadaan artefak-artefak tersebut tidak diketahui lagi.

Pada tahun 1940, kantor perusahaan pengapalan yang menaungi SS Jesmond, yaitu Watts, Watts and Company di Inggris, mengalami pengeboman oleh pasukan Jerman sehingga catatan perjalanan kapal SS Jesmond ikut hancur bersamanya. Jadi, para peneliti yang kemudian mencoba untuk menyelidiki klaim Robson tidak bisa menemukan apa-apa lagi. Selain itu, juga tidak ditemukan adanya catatan donasi dari Robson kepada museum Inggris.

Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah kisah penemuan itu hanya rekayasa Robson?

Lawrence Hill yang pernah meneliti mengenai misteri ini cukup percaya dengan kisah Robson. Ia punya teori mengapa artefak tersebut tidak pernah terlihat lagi.

Menurutnya, nama logam kuning pada pedang yang ditemukan oleh Robson adalah Tumbaga, yaitu logam campuran yang terdiri dari 80% emas dan 20% tembaga. Logam jenis ini disebut Plato sebagai Orichalum yang menurutnya banyak terdapat di Atlantis. Hill juga menyebutkan kalau Robson telah melebur pedang tersebut untuk mengambil emasnya. Ada kemungkinan kalau Robson telah mengurungkan niatnya untuk menyumbangkan penemuannya tersebut. Karena itu artefak-artefak tersebut tidak dapat ditemukan kembali.

Selain itu, pulau misterius yang dilihat oleh Kapten Robson sepertinya juga dilihat oleh Kapten James Newdick, kapten kapal The Westbourne. Saat itu, Kapten Newdick sedang berlayar dari Marseilles menuju New York. Namun, ia mencatat posisi pulau tersebut pada 5º 30′ N, 24º W, tidak terlalu jauh dari lokasi sebelumnya. Ini mengindikasikan kalau pulau itu mengapung atau memang ada dua pulau berbeda yang baru muncul dari dalam laut.

Lalu, peneguhan yang lain datang dari para awak kapal lain yang kurang lebih pada waktu yang sama berlayar melewati wilayah itu. Mereka juga melihat ikan-ikan mati di atas lautan. Kesaksian mereka mengenai ikan-ikan mati itu juga diberitakan di harian-harian lokal.

Jadi, ada beberapa aspek dari kesaksian Robson yang bisa dikonfirmasi.

Mengenai munculnya sebuah pulau dari dalam laut, itu pun bukan sesuatu yang aneh. Peristiwa geologi semacam ini sesungguhnya telah terobservasi beberapa kali. Misalnya, belum lama ini, sebuah pulau tiba-tiba muncul dari dalam laut di lepas pantai Pakistan. Para nelayan setempat melaporkan peristiwa ini pada tanggal 26 November 2010.

Di bawah ini adalah foto-foto satelit dari earthobservatory.nasa.gov yang menunjukkan sebelum dan sesudah kemunculan pulau tersebut.





Di bawah ini adalah screenshot dari permukaan pulau yang diambil oleh para nelayan Pakistan yang sempat mampir ke pulau tersebut.



Menurut NASA, pulau semacam ini memang biasa muncul dan kemudian segera menghilang karena tertelan ombak.

Jadi, kesaksian Kapten Robson mengenai perjumpaannya dengan pulau yang muncul dari dalam laut juga bukan sesuatu yang mustahil. Namun, apakah benar dia telah menemukan sisa-sisa peradaban manusia di dalamnya? Soal ini memang tidak bisa dikonfirmasi oleh bukti lain selain kesaksian Robson dan wartawan yang mewawancarainya.

Klaim mengenai Atlantis sendiri datang dari Plato dalam bukunya Timaeus dan Critias.



Jika Atlantis benar-benar ada dan bukan hanya karangan Plato, maka lokasi yang paling mungkin memang tempat dimana SS Jesmond melihat pulau misterius tersebut. Menurut Plato, Atlantis terletak di seberang Pilar-Pilar Herkules yang merupakan sebutan kuno untuk Selat Gibraltar.

Jika pulau yang dilihat Robson memang bagian dari peradaban Atlantis, mungkinkah suatu hari ia kembali muncul dan menjawab seluruh keraguan kita?


sumber: http://xfile-enigma.blogspot.com/2011/05/petualangan-kapal-ss-jesmond-dan.html

Sabtu, 28 April 2012

Sawi dan Brokoli Ampuh Kurangi Resiko Kanker Payudara

Sawi dan Brokoli Ampuh Kurangi Resiko Kanker Payudara

7.4.12

http://adiagro.files.wordpress.com/2011/05/009_b.jpg



Sayuran kaya akan vitamin dan serat. Kandungan seratnya baik untuk pencernaan. Sawi, brokoli, bokchoy merupakan jenis sayuran hijau yang baik untuk wanita. Karena sayuran hijau ampuh menumpas sel kanker payudara.

Menurut sebuah penelitian si Amerika Serikat yang dipublikasikan Selasa (3/4), sawi, brokoli dan sayuran hijau lainnya bisa mengurangi resiko kanker payudara. Wanita di China yang makan kol, brokoli dan sayuran hijau sistem kekebalan tubuhnya makin meningkat setelah sembuh dari kanker payudara.

Penyataan tersebut dihasilkan dari studi yang melibatkan 4.886 wanita penderita kanker payudara di China berusia 20-75 tahun. Sebanyak 20-70% penderita kanker stadium 1sampai 4 di tahun 2002 hingga 2006. Saat penelitian responden diperingatkan untuk makan sayuran hijau lebih banyak selama 36 bulan.

http://i01.i.aliimg.com/photo/v0/106762035/sawi_jepun_xia_bai_cai_sawi_bunga.jpg



Hasilnya, mereka yang didiagnosa akan meninggal dunia justru penyakitnya semakin membaik dan resiko kematian menurun hingga 62 persen. Sedangkan responden yang lebih sedikit makan sayur hanya menurunkan resikonya sebanyak 27 persen.

“Meningkatkan asupan sayuran hijau bisa menjadi pilihan makanan yang tepat. Makanan tersebut bisa membantu tetap sehat dan mengurangir resiko kanker payudara,” ujar Sarah Nechuta, seorang peneliti postdoctoral di Universitas Vanderbilt di Nashville, Tennessee.


Umumnya sayuran yang dikonsumsi di China adalah lobak, kubis, dan bok choy. Sedangkan sayuran hijau seperti brokoli dan bayam lebih sering dikonsumsi di Amerika Serikat dan negara Barat lainnya. Namun, konsumsi sayuran pada wanita di China jauh lebih tinggi dibandingkan wanita di Amerika.

“Pada penelitian selanjutnya harus lebih fokus pada senyawa bioaktif yang terkandung di dalam sayuran, seperti isothuocyanate dan indoles yang mungkin memberikan efek pada penyakit kanker,” tambah Nechuta

sumber :http://food.detik.com/read/2012/04/06/092912/1886453/900/sawi-dan-brokoli-ampuh-kurangi-resiko-kanker-payudara?991104topnews